Blog

Polisi Tangkap Otak Pembunuhan di Batununggal

0

Infopontianak.Com, BANDUNG - W atau Weda, satu di antara otak pembunuhan pasangan suami istri, Didi Harsoadi (59) dan Anita Anggrainy (51) ditangkap oleh tim gabungan Subdit III Jatanras Polda Jabar dan Satreskrim Polrestabes Bandung.

Kasatreskrim Polrestabes Bandung, Ajun Komisaris Besar Polisi Nugroho Arianto membenarkan penangkapan tersebut. “Iya, benar, sudah ditangkap,” kata Nugroho singkat di Mapolrestabes Bandung, Jumat (18/4/2014). Namun Nugroho tidak merinci soal penangkapan terhadap W.

Kasubdit III Jatanras Dit Reskrimum Polda Jabar, Ajun Komisaris Besar Polisi Murjoko Budoyono menambahkan, Weda ditangkap pada Kamis (17/4/2014) malam saat berada dalam kendaraan di perbatasann Kabupaten Garut dan Tasikmalaya.

“Dia (Weda) ditangkap dalam kendaraan, saat pelariannya di perbatasan Garut dan Tasikmalaya,” kata Murjoko melalui pesan singkatnya, Jumat.

Selain Weda, otak pelaku lainnya adalah Raga (25) yang kini sudah diringkus. Weda kini sudah ditahan di Satreskrim Polrestabes Bandung untuk menjalani proses penyidikan.

Sebelumnya, empat pelaku lainnya yang sudah ditangkap, yakni Raga (25) (otak pelaku), Tengku (44) (pembuat strategi dan penghubung kepada dua eksekutor), Saimudin alias Udin Botak (42) dan Dedi Murdani alias Epong (28). Mereka kini sudah meringkuk di sel tahanan Mapolrestabes Bandung.

Dari penangkapan para pelaku itu, polisi mengamankan barang bukti berupa mobil Nissan Grand Livina warna silver D 68 PD yang sebelumnya diganti dengan B 1833 EFK berikut STNK. Lalu satu mobil Toyota Avanza Veloz D 1207 MNI warna putih berikut STNK, potongan kuku Epong, meteran warna biru kuning merk powertape, 2 helai sprai warna pink dan biru muda serta satu potong bed cover warna biru motif kembang.

Didi Haswadi (59) dan Anita Anggraeni (51) dibunuh di rumah mewah mereka di Jalan Batu Indah Raya, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul pada Minggu (13/4/2014) lalu. Mayat mereka dibawa ke Pandeglang, Banten dan ditemukan pada Jumat (11/4/2014). Pelaku pembunuhan diketahui sebanyak 4 orang, dan kini semuanya sudah ditangkap. Belakangan diketahui, motif pembunuhan adalah terkait jual beli rumah.

Penulis : Kontributor Bandung, Rio Kuswandi

April 18th, 2014 by . Posted in Berita

Kronologi Pembunuhan Pasangan Didi dan Anita di Batununggal

0

Infopontianak.Com, BANDUNG - Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Mashudi mengatakan, pembunuhan pasangan suami istri, Didi Harsoadi (59) dan Anita Anggrainy (51) di Batununggal sudah terencana. Para pelaku berkumpul terlebih dahulu di sebuah hotel di Cijagra, Bandung, dua hari sebelum eksekusi.

“Jadi mereka (para pelaku) telah merencanakan pembunuhan. Dua hari sebelum eksekusi mereka berkumpul di sebuah hotel. Pembunuhan dilakukan pada Kamis, tanggal 10 April, setelah pemilu, sekitar pukul 12.30 WIB,” kata Mashudi di Bandung.

Sementara itu, Juniyus Alif Frescly, kuasa hukum empat tersangka pembunuhan, menjelaskan kronologi pembunuhan terhadap suami istri di rumah mewah tersebut. Empat pelaku, di antaranya Raga (25) (otak pembunuhan), Tengku, Udin Botak dan Epong ramai-ramai mendatangi lokasi. Raga yang pura-pura bertamu membicarakan masalah utang piutang dan penjualan rumah kepada kedua korban.

“Raga bertamu ke rumah pasangan suami istri itu. Raga bilang mau membicarakan masalah rumah yang mau dijual si suami istri. Raga memperkenalkan Udin dan Epong sebagai tukang ukur luas lahan bangunan,” kata Juniyus, di Bandung, Jumat (18/4/2014).

Juniyus mengaku ceritanya itu sesuai pengakuan dari ketiga kliennya. Juniyus melanjutkan, posisi ruang tamu ada di lantai 2. Raga dan dua eksekutor itu dipersilakan naik ke atas. Sementara, Weda menunggu di bawah dan Tengku diam di dalam mobil.

Setelah dipersilakan duduk, mereka basa-basi dengan Didi. Posisi Anita ada di bawah sedang membuatkan air minum untuk tamu. Tak lama kemudian, dua eksekutor itu pura-pura mengukur luas lahan rumah dengan meteran. Suasana, saat itu, masih biasa-biasa saja. Di antara mereka sedikit mengobrol dan basa-basi.

Tiba-tiba, Udin Botak memukul muka Didi hingga terjatuh. Epong membantu dengan mengeluarkan alat kejut listrik. “Korban yang pria langsung disetrum dengan alat kejut di bagian leher. Setelah itu, ditusuk dengan pisau belati,” kata Juniyus. Jumat.

Anita yang berada di lantai bawah membuat minuman, mendengar suara gaduh di lantai atas. Dia pun bertanya ada kejadian apa. Salah satu pelaku, Udin menjawabnya sedang memperbaiki meja.

Lalu, saat tiba di lantai atas, Anita langsung dipukul oleh Epong di bagian mukanya hingga terjatuh. Dalam keadaan tergeletak, Anita kemudian disetrum oleh alat kejut listrik di bagian lehernya oleh Udin.

“Setelah dipukul, korban wanita terjatuh, lalu disetrum di bagian leher, setelah itu ditusuk. Kedua korban dibunuh tanpa melakukan perlawanan,” kata Juniyus.

Setelah dieksekusi, kedua jasad suami istri itu dibungkus oleh Tengku pakai sprei. Kemudian keduanya dimasukkan ke bagian belakang mobil Grand Livina warna silver bernomor polisi D 68 PD milik korban.

Setelah membunuh, pelaku masih berada di TKP hingga 4 jam. Lalu sore harinya, kelima pelaku berangkat ke Pandeglang, Banten.

“Pembuangan mayat ke Pandeglang, Banten, memang sudah direncanakan,” katanya.

Pelaku tiba di Pandeglang, Banten pada malam hari. Mereka langsung membuang mayat Didi dan Anita di sana.

Penulis: Rio Kuswandi

April 18th, 2014 by . Posted in Berita

BREAKING NEWS: Terdapat Luka Tusukan di Tubuh Putri

0

Infopontianak.Com, PONTIANAK – Dari hasil autopsi dari RSUD Soedarso Pontianak terdapat luka tusukan di bagian dada sebelah kanan tembus ke belakang pada siswi SMA antun Untan, Putri Wulandari (16).

Korban merupakan warga Tanjung Raya II, Gang Trisaksi no 14, Pontianak Timur. Dugaan sementara Putri tews diduga dibunuh oleh pacarnya beranisial NN.

Hasil informasi dihimpun Tribunpontianak.co.id, korban ditemukan tewas oleh seorang pemburu. Merasa takut, pemburu langsung melaporkan ke penjual es tebu, kemudian melaporkan ke pak RT setempat dan kepolisian.

Kuswadi (46), ayah Putri menuturkan, Putri tak pulang ke rumah sekitar Sabtu (29/3/2014), setelah pergi ke sekolah. Hingga Minggu (30/3/2014) tak juga kembali. Keluarga melaporkan kepihak kepolisian. Namun korban menemukan di daerah Parit Tengkorak.

“Kasus pembunuhan anak saya ini, kita serahkan kepihak kepolisian. Jadi untuk sementara, saya belum bisa memberikan keterangan kepada kawan-kawan wartawan, karena masih kondisi seperti ini,” katanya saat menunggu korban di kamar mayat RSUD Soedarso, Senin (31/3/2014).

March 31st, 2014 by . Posted in Berita

Warga Khawatir, Peredaran Narkoba di Rusunawa Baladewa Marak

0

Infopontianak.Com, JAKARTA - Peredaran narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Baladewa, Jalan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, semakin parah, Sabtu (8/3/2014).

Aktivitas jual beli barang haram ini sudah berjalan sekitar dua tahun lalu. Praktek jual beli narkoba layaknya sebuah pasar yang tidak ada berhentinya. Kendati Rusun Baladewa memang dihuni oleh warga yang kebanyakan kurang mampu.

Warga banyak mengeluhkan peredaran narkoba makin gencar berada di wilayah Rusun Baladewa. Terlebih para pemakai sudah buka-bukaan menggunakan narkoba jenis putau di depan anak-anak kecil. Hal ini yang menyebabkan warga sangat khawatir jika anak-anak mereka ikut terkena jeratan narkoba.

Beberapa jarum suntik bekas pemakaian para pemakai terlihat bergeletakan sembarangan di gubuk-gubuk seperti bedeng di sisi barat Blok 3 Rusun Baladewa.

Menurut Ketua RW 14 Rusun Baladewa, Sugeng Rahayu (58) mengatakan, penghuni rusun tidak ada yang menggunakan narkoba. Namun para pemakai kebanyakan berasal dari luar rusun. Mereka memiliki akses di pintu belakang rusun sebelah barat.

“Peredaran narkoba, baru dua tahun belakangan ini semakin parah. Ngelebihin Kampung Ambon. Setiap hari, saya komplain dengan para pemakai sambil bawa golok. Karena banyak pakai narkoba depan anak-anak kecil dan di depan sekolah,” kata wanita yang sudah tinggal sejak Rusun Baladewa berdiri sejak tahun 1994 kepada Warta Kota.

Rahayu menjelaskan praktik jual beli narkoba memang terjadi seperti layaknya pasar malam atau pasar senggol. Pasalnya, pengecer dan bandar dari narkoba memang berada di kawasan itu. Lebih dari 300 jarum suntik bekas narkoba ditemukan warga ketika kegiatan kerja bakti.

“Peredaran narkoba kalau Sabtu dan Minggu antara pagi sampai sore. Kalau hari biasa siang jam sebelas. Kadang-kadang transaksi menggunakan sistem barter. Jadi kaya tuker dan gadai dengan narkoba. Pemakai dari luar kalau dari dalam malah ga ada,” katanya.

Puluhan korban pun berjatuhan di Rusun Baladewa setelah menggunakan narkoba itu. Oleh sebab itu, warga sangat membutuhkan peran serta pemerintah dan pihak kepolisian dalam memberantas peredaran narkoba di wilayah Johar Baru. Akan tetapi, sulitnya memberantas narkoba sendiri karena adanya oknum dari pihak kepolisian yang juga bermain.

“Polisi sebagian juga ngambil hasil (ngambil jatah ada), dan sebagian jujur melakukan dinas dengan mengontrol rusun,” ujarnya.

Menurutnya, sebelumnya ada dua pintu akses dari para pemakai untuk masuk ke rusun agar bisa menggunakan narkoba. Akan tetapi, baru Januari 2014 ini pintu di sisi barat ditutup oleh pihak kepolisian dan kecamatan.

“Tadinya tembok, tapi dijebol. Aksesnya keluar ada dua, namun sekarang tinggal satu. Banyak yang tewas disini setelah menggunakan narkoba,” ujarnya.

March 8th, 2014 by . Posted in Berita

Korban Gantung Diri Buat Pesan Ancaman

0

Infopontianak.Com, SOE - Viktor Aristo Tefa (18), siswa kelas 3 SMA Efata Soe, mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon asam di Desa Oehela, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (17/2/2014), pukul 05.30 Wita.

Namun sebelum tewas gantung diri, Risto sapaannya, menulis sebuah surat dalam bahasa daerah sebagai pesan terakhir buat kedua orangtuanya. Pesan isi surat tersebut adalah, “Saya mati karena ulah bapak dan mama dalam rumah dan saya akan menjemput Friden Tefa (adiknya) tidak lama lagi, yakni tanggal 14 April 2014, biar supaya kami mati semua.”

Kepada Pos Kupang di rumah duka, adik kandung Risto, Friden Tefa menceritakan, beberapa hari sebelumnya Risto ngotot minta dibelikan sepeda motor baru karena motor yang dibelikan bulan Oktober 2013 dibawa kabur orang tidak dikenal tanggal 4 Januari 2014.

“Kami baru menjual seekor sapi untuk kebutuhan keluarga. Risto meminta agar uang hasil jual sapi dibelikan motor baru untuk ke sekolah. Bapaknya tidak mau karena motor yang dibeli beberapa bulan sebelumnya hilang dibawah kabur orang,” tutur Barce.

Adik Risto, Friden Tefa juga menceritakan bahwa selama ini Risto tidak ada masalah dengan orang lain, termasuk teman-teman di sekolah mereka. Kami dua sama-sama sekolah di SMA Efata. Dia kelas 3, saya kelas 2, tiap hari kami dua berangkat dan pulang dari sekolah selalu sama-sama. Tadi malam sebelum pukul 20.00 Wita, dia ribut dengan mama, setelah itu saya keluar rumah menembak kelelawar.

“Saya tidak tahu persis keberadaannya setelah ribut dengan mama hingga pagi ditemukan sudah menggantung diri. Kami semua kaget, namun tetap menerima ini sebagai cobaan dalam keluarga. Saya sangat sayang dan mengasihi kakak saya. Dia menuliskan pesan terakhir bahwa akan menjemput saya pada tanggal 14 April 2014. Saya yakin itu tidak mungkin terjadi dan kami tetap berdoa agar dia tenang dan bahagia bersama bapa di Surga,” ujar Friden.

Salah seorang guru dari Risto, Misraem Natonis yang datang bersama rekan-rekan korban menuturkan, sejak sepeda motornya hilang bulan Januari 2014, Risto kurang semangat saat berada di kelas.

“Kadang dia kelihatan murung dan tidur-tiduran di kelas saat jam istirahat. Dia adalah seorang teman yang baik di kelas kami,” tutur Foni Lawai dan Alfian Seko, rekan korban.

Penulis : Thomas Duran

February 18th, 2014 by . Posted in Berita

Ngeri! Restoran "Ekstrem" Sajikan Daging Manusia

0

Infopontianak.Com, LAGOS - Sebuah restoran di negara bagian Anambra, Nigeria dilaporkan ke pihak berwajib karena menyajikan daging manusia. Akibatnya Pemerintah setempat menutup restoran tersebut.

Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan sedikitnya dua kepala manusia yang masih berdarah dibungkus semacam kertas dalam penggerebekan yang digelar pada Kamis (12/2/2014). Mendapatkan bukti itu, polisi kemudian menangkap 11 orang termasuk pemilik restoran “ekstrem” itu.

Selain itu, polisi juga menyita dua senapan serbu AK-47, sejumlah senjata api lainnya, ratusan amunisi, dan beberapa telepon genggam.

Polisi mengatakan, di restoran itu daging manusia dijual dengan harga yang sangat mahal. Bahkan kepala manusia panggang juga tersaji dalam menu. Seorang pastor sangat terkejut karena dia pernah menyantap daging yang disajikan restoran tersebut.

“Setelah makan saya harus membayar daging itu dengan harga 700 naira (Rp 50.000). Saya sangat terkejut. Saya tidak tahu daging yang sangat mahal itu adalah daging manusia,” kata pastor yang tak disebutkan namanya itu.

“Apa yang terjadi di negeri ini? Bisakah Anda bayangkan manusia menjual daging manusia lainnya untuk dikonsumsi? Saya mulai mengkhawatirkan manusia di belahan dunia ini,” tambah dia.

Seorang penduduk lokal mengatakan, dia kerap melihat orang-orang mencurigakan di restoran itu. “Jadi saya tak kaget jika polisi menemukan hal mengerikan di sana,” ujar penduduk itu.

Sejauh ini belum diperoleh informasi sudah berapa lama restoran itu menyajikan daging manusia dan bagaimana pengelola rumah makan mendapatkan daging manusia.

Praktik kanibalisme memang terkadang terjadi di sejumlah bagian Nigeria. Namun, kasus ini adalah pertama kalinya daging manusia dijual untuk dikonsumsi.

February 13th, 2014 by . Posted in Berita

Penjual Menawari Micky Seharga Rp 1 Juta (2)

0

Infopontianak.Com – Penantian Fiona agar Micky, anjing kesayangannya kembali berbuah manis setelah menempelkan foto dan memasang iklan di media cetak lokal. Fiona menerima telepon dari seseorang yang mengaku membawa anjingnya. Pria paruh baya yang baik itu adalah Thomas. Pria bertempat tinggal di Sandai, Kabupaten Ketapang.

“Dia menyakinkan saya, tunjukkan foto Micky melalui BBM. Akhirnya koko saya ke sana menjemput Micky,” ungkapnya.

Keputusan pun diambil menjemput Micky. Perjalanan ratusan kilometer pun ditempuh abang Fiona, Bondan Wandy (30), untuk menyusul anjing kesayangan adiknya itu dengan mobil pribadi dari Singkawang, melewati jalan trans Kalimantan. Kepada Tribunpontianak.co.id, Senin (10/2/2014) malam, dari ujung telepon, Bondan menuturkan baru saja sampai di Singkawang, menjemput Micky dari Sandai.

“Saya berangkat subuh, janji dengan Pak Thomas di jembatan, tak jauh dari rumah. Beliau mengantar ke rumahnya menemui Micky. Orangnya baik, pencinta anjing juga. Di sana kami berbincang-bincang bersama istri dan anaknya. Saat Micky, hendak kami bawa pulang, wajah Pak Thomas dan istrinya sedih,” kata Bondan.

Bondan menceritakan, pria bernama Thomas itu, menemui Micky Jl Gajah Mada saat ditawari oleh dua orang tak dikenal. Kedua orang itu, menawarkan Micky seharga Rp 1 juta kepadanya. “Karena istrinya suka, mereka beli dan dibawa ke Sandai. Lalu Pak Thomas, menawari Micky ke anaknya di Ketapang tetapi anaknya tidak mau,” ujar Bondan saat berbincang dengan Thomas.

Ternyata, saat Fiona memasang iklan kehilangan anjingnya, anak Pak Thomas menceritakan ciri-ciri anjing tersebut kepada ayahnya. “Ayahnya lalu mengabarkan ke kami, dan mengirimkan foto. Micky pun kami jemput. Beliau mau mengembalikan anjing kami, karena mereka pernah merasakan kehilangan anjing juga. Jadi mereka tahu apa yang kami rasakan. Pak Thomas orangnya baik, sebelum berpisah dengan Micky, dia sempat pasangkan liontin untuk Micky,” tutur Bondan.

Kini, Micky sudah berkumpul lagi dengan Fiona sekeluarga di Singkawang. Setiba di rumah, Fiona melihat gerak-gerik Micky seperti kehilangan ingatan berada di tempat asing. “Micky baik-baik saja, agak lemas karena perjalanan jauh dari Sandai ke Singkawang. Saya, Fiona dan keluarga besar mengucapkan terimakasih kepada Pak Thomas dan yang lainnya membantu mencari Micky,” kata Bondan mengakhiri pembicaraannya. (selesai)

February 11th, 2014 by . Posted in Berita

Duh, Cewek-cewek di Desa Ini Menikah Dijodohkan Orangtua

0

Infopontianak.Com,  PANGKEP - Pernikahan yang didasarkan pada perjodohan oleh orangtua ala kisah Siti Nurbaya di Dusun Kalukue, Desa Tamangapa, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan,  ternyata bukan sekadar legenda atau dongeng, melainkan sebuah kisah nyata.  Sialnya, cewek-cewek belia ini dinikahkan oleh orangtua dalam kondisi masih di bawah umur.

Gadis-gadis di tempat ini harus menurut pada calon suami pilihan orangtua alias ‘Pilot’ Lantas bagaimana kalau tidak patuh pada jodoh yang dipilihkan orangtua? “Kalau nggak mau biasanya ditakut-takuti, nanti kamu nggak laku-laku. Atau akan jadi perawan tua,” kata Halima, seorang ibu rumahtangga berusia 19 tahun yang dijodohkan orangtua pada usia 15 tahun saat disambangi Tribunnews.com, Kamis (6/2/2014) pekan lalu.

Ketika ditanya, apakah dia saat itu memang tidak suka pada pria pilihan orangtua, Halima langsung mengangguk-angguk, isyarat dirinya memang benci pada perjodohan yang waktu itu tak dikehendakinya itu.  “Ya, nggak berani melawan orangtua,” tuturnya dalam nada lirih dan pasrah.

Halima yang kini sudah punya satu anak itu bertutur, dia tidak sendiri. Gadis-gadis seusianya saat itu hanya bisa menikah dengan ‘pilot’ alias pilihan orangtua.

“Dia mah, masih mending. Nikahnya sudah usia 15. Saya dulu lulus SD langsung dikawinin,” kata Farida, ibu dari lima anak. Farida mengenang, saat dijodohkan, saat itu dia masih belum mengalami menstruasi alias haid.

Artinya, dia belum siap digauli oleh suami di malam pertama. Secara mental juga belum siap jadi seorang istri, apalagi jadi ibu. Tapi ia hanya bisa pasrah mengikuti kultur yang berlaku di desanya.

Pernikahan ala Siti Nurbaya rupanya juga berlaku di dusun tetangganya. Yakni dusun Kasuarang, masih di Desa Tamangapa. Desa Tamangapa sebenarnya terkenal dengan sebutan ‘Desa Organik.’ Ini karena ibu-ibu di desa ini gemar dan amat bersemangat menerapkan cocok tanam dengan cara organik alias tidak memakai pupuk kimia atau pembasmi hama pestisida.

“Cewek-cewek di sini juga sering dibilang ‘Cewek Organik.’ Ini karena mereka asli, nggak dandan menor kayak orang kota. Cantik asli, nggak pakai gincu, bedak,” kelakar Nurhaidah, seorang ibu rumahtangga.

Nurjaya, ibu rumahtangga lainnya, membenarkan kalau perjodohan orangtua masih berlaku kuat di desa yang subur, sejuk dan banyak ditemukan empang-empang (kolam) ikan itu.

Dilawan dengan Pendidikan

Mengapa cewek-cewek di yang berada di pesisir Sulawesi Selatan itu begitu pasrah pada perjodohan orangtua?

Pertanyaan ini rupanya menggugah perhatian Oxfam (organisasi kemanusiaan dan bantuan asal Inggris). Setelah ditelisik, rupanya salah satu penyebab adalah rendahnya daya tawar para perempuan terhadap perjodohan orangtua.

Mereka tidak biasa berbicara dengan tegas dan lugas. Cewek-cewek tidak mampu beretorika dengan baik untuk menolak perjodohan yang dikehendaki orangtuanya. Semua karena faktor rendahnya pendidikan.

Untuk meningkatkan pendidikan mereka, termasuk kemampuan beretorika dengan baik, Oxfam menggelar program Restoring Coastal Livelihood (RCL), alias program Penghidupan Masyarakat Pesisir.

Salah satunya adalah dengan adanya ‘Sekolah Lapang.’ Dengan sekolah lapang, para wanita dibekali training singkat berbicara, beretorika, dalam susunan kalimat yang baik dan mudah dimengerti.

“Kalau mereka pintar beretorika dengan baik, mereka akan terlatih menentukan nasib sendiri. Tidak lagi cuma pasrah, nasibnya ditentukan orang lain,” ujar Boedi Sardjana Julianto, Project Manager RCL untuk kawasan ini kepada Tribunnews.com.

Kaum wanita ini desa ini juga didongkrak posisi tawarnya terhadap para suami dengan dibekali kemampuan produktif. Mereka diajari membuat aneka cemilan berbahan rumput laut (bahan baku yang amat mudah ditemukan di desa ini karena posisinya di pesisir laut).

Mereka juga diajari bertanam secara organik. Hasilnya dijual, di samping untuk konsumsi sendiri. Tujuannya, kalau mereka bisa cari duit sendiri, tak selalu ‘nodong’ untuk segala urusan pengeluaran pada suami, maka posisi tawar bisa naik.

“Intinya membuat ibu-ibu lebih pintar dan mandiri,” ujar Soni Kusnito, staf lapangan dari Oxfam yang ikut memberikan pendampingan pada ibu-ibu dalam menjalani training di Sekolah Lapang.

Hasilnya, desa ini kini jadi salah satu pusat industri rumahan (home industry) untuk produksi cemilan berbahan rumput laut. Produk andalannya adalah Snack Kacang Rumput Laut yang dijual hingga Papua, Banjarmasin, sebagian kota di Sumatera dan tentu di Sulawesi dan Jawa.

February 9th, 2014 by . Posted in Berita

Miliki Sabu-sabu, Penjual Roti Ditangkap Polisi

0

Infopontianak.Com, SANGGAU - Seorang penjual roti berinisial CCN alias Aj (35) diduga miliki narkotika jenis sabu-sabu di tangkap jajaran kepolisian Polres Sanggau. Ayah satu anak ini diamankan di rumahnya di Dusun Selon, Desa Pusat Damai, Kecamatan Parindu, pada Rabu (5/2/2014) 18.15 WIB.

“Dia ditangkap di rumah yang bersangkutan, dia meletakkan barang itu, di dapur dekat tempat Oven membakar roti itu,” jelas Kepala Satuan Reserse (Kasatres) Narkoba Polres Sanggau, AKP Suparwoto, pada Kamis (6/2/2014).

Di tempat itu ditemukan lima paket shabu-shabu. Namun, belum diketahui jumlahnya karena masih diberiksa Balai Pemeriksa Obat-obatan dan Makanan (BPOM).

“Kita belum ketahui jumlahnya karena itu sudah lama dipakainya, katanya dia beli itu Rp 6 juta,” terangnya.

Suparwoto menceritakan awalnya pihaknya mendapatkan informasi bahwa tersangka membeli shabu-shabu dari Pontianak. Personil kepolisian kemudian menguntit tersangka lebih kurang sepekan yang lalu.

“Pengakuan tersangka dari jaringan Pontianak, karena biasanya mereka ini tidak mau terbuka, biasanya dia terima saja, tapi kita tetap akan lakukan penyelidikan,” jelasnya.

February 6th, 2014 by . Posted in Berita

Rumah Mulyono Terbakar Saat Ditinggal Berjualan

0

Infopontianak.Com, SINTANG – Warga Masuka Pantai kelurahan kapuas Kanan Hilir dikejutkan dengan peristiwa kebakaran yang menghanguskan satu unit rumah milik Mulyono (25) sekitar pukul 07.15 Wib, saat peristiwa kebakaran rumah dalam keadaan kosong.

Satu diantara warga Eti, yang melihat kejadian mengungkapkan api berawal dari dapur rumah, awalnya api kecil namun tak lama kemudian langsung membesar.

“Awalnya dari dapur, ada bunyi ledakan juga tapi tak tau apa. Soalnya rumah nya kosong, ibunya juga tak ada disitu,” ujar Eti kepada Tribunpontianak.co.id, Senin (3/2/2014).

Sebelumnya, tetangga yang berdekatan langsung dengan korban juga berteriak histeris, saat melihat api.

“Istrinya orang yang buka salon itu teriak, saya kira apa. Saya kira anaknya yang kenapa- napa rupanya lihat rumah sebelah terbakar,” jelasnya.

February 3rd, 2014 by . Posted in Berita
© Vantage Theme, business directory software created by AppThemes, powered by WordPress.

SEO Powered By SEOPressor